Oleh: fahrymuda | Juli 2, 2010

ALEXANDRIA MESIR: EKSOKTIKA DAN SEJARAH

ALEXANDRIA benar-benar sangat indah. Kota pantai terpanjang di Mesir itu juga menyimpan sejarah yang bernilai sangat tinggi. Sosoknya terpampang jelas sampai kini. Itulah kawasan paling utara Mesir yang menjadi saksi sejarah masuknya peradaban Islam dan Romawi ribuan tahun silam.

Pantainya menghadap ke Laut Mediterania yang benar-benar memesona. Pasirnya putih kekuningan, khas padang pasir Timur Tengah, berbaur dengan bebatuan yang menonjol di sana-sini. Saya sempat menyusuri pantai itu dengan berkendara mobil dan mengukur jauhnya. Ternyata panjang sekali, sekitar 25 kilometer. Benar-benar pantai yang sangat eksotik.

Pesisir Kota Alexandria Mesir

Di ujung paling barat terdapat Benteng Qait Bey, sultan Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir dan Syria 1468-1496 M, dan di ujung paling timur ada Taman Muntazah seluas 155 hektare, tempat istana Raja Farouq. Raja Farouq adalah keturunan terakhir Dinasti Muhammad Ali yang menjadi penguasa Mesir sejak abad ke-19. Raja Farouq digulingkan lewat kudeta militer oleh Gamal Abdul Nasser yang kemudian menggantikannya, sekaligus mengubah sistem kerajaan menjadi sistem republik sejak 1953.

Kudeta militer itu dilakukan karena Raja Farouq dikenal sebagai raja yang suka berfoya-foya dalam kemewahan dan dianggap menghabiskan kekayaan negara untuk berbagai aktivitas pribadinya. Karena itu, dia pun diasingkan ke Monako sampai meninggal. Karena kebiasaan makannya yang buruk, tubuhnya sangat gemuk dengan bobot 140 kg. Dia meninggal di atas meja makan, saat jamuan makan di Roma, Italia, pada usia 45 tahun.

Asetnya yang sangat banyak dilelang negara setelah dia meninggal. Istananya yang di Alexandria pun dialihkan menjadi milik negara. Kini istana Raja Farouq digunakan sebagai tempat menerima tamu-tamu kenegaraan Mesir. Arsitek bangunannya sangat menawan dan posisinya strategis. Dari sini kita bisa melihat hamparan Laut Mediterania yang memesona. Apalagi di sana terdapat jembatan peninggalan Raja Farouq, yang khusus dibangun sebagai tempat untuk menikmati kawasan indah itu, lengkap dengan taman dan gazebonya.

Benteng Qait Bey adalah bangunan pertahanan yang didirikan Sultan Qait Bey untuk menghadang gempuran pasukan Turki, Dinasti Usmani. Bangunannya persis di pinggir laut, di bagian daratan yang menjorok. Berada di bagian paling atas, saya menyaksikan air laut yang langsung menghampar luas. Benteng itu memang sangat strategis untuk menghadang pasukan yang datang dari bagian utara lewat laut.

Di dalamnya terdapat ruang-ruang perlindungan yang berlubang-lubang untuk menyorongkan senjata laras panjang ataupun meriam, menembaki musuh yang datang ketika mereka sudah berada dalam jarak jangkau tembakan. Itu sangat khas peperangan abad pertengahan. Tentu benteng tersebut sekarang sudah tidak berguna lagi karena bisa diserang dengan menggunakan pesawat terbang dengan bom-bom yang dijatuhkan dari atasnya. Atau, lebih gawat lagi dengan menggunakan peluru balistik yang memiliki daya jangkau ratusan sampai ribuan kilometer. Karena itu, benteng tersebut menjadi kenangan masa lalu, dan kini menjadi museum yang menyimpan sejarah.

Objek menarik yang lain adalah perpustakaan Alexandria, tidak jauh dari Benteng Qait Bey. Itulah perpustakaan terbesar dan tertua di dunia, yang menyimpan jutaan buku dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mulai zaman sebelum Masehi sampai zaman modern kini.

Cikal bakalnya dirintis pada 323 SM, ketika kawasan tersebut dikuasai Alexander The Great dari Imperium Romawi. Dia kita kenal sebagai Iskandar Zulkarnaen. Karena itu, oleh masyarakat Mesir, kawasan tersebut disebut dengan dua nama, Alexandria atau Iskandariyah. Itulah ibu kota Mesir pada zaman itu. Sekitar seribu tahun Mesir berpusat di sana dan baru dipindahkan ke Kairo oleh Amru bin Ash ketika Islam masuk ke Mesir pada 621 M.

Iskandar Zulkarnaen-lah yang mula-mula membangun kota tersebut dengan mendatangkan sejumlah arsitek dari Yunani. Karena itu, selera Romawi kawasan tersebut sangat terasa dan masih tampak pada berbagai bangunan peninggalannya. Termasuk gedung teater tempat adu gladiator yang sempat saya kunjungi. Gedung itu merupakan tiruan Gedung Colloseum di Italia yang berbentuk setengah lingkaran dan kini sudah ambruk.

Iskandar Zulkarnaen memiliki panglima perang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, yaitu Ptolemi 1. Pada zaman Ptolemi 1 itulah, perpustakaan yang sangat besar mulai dibangun. Sampai pada era Ptolemi 3, jumlah buku dan manuskrip koleksinya sudah mencapai sekitar 700.000. Sayang, perpustakan tersebut dihancurkan Yulius Caesar saat dia menyerang Mesir pada 38 SM. Tak kurang dari 400.000 buku ludes dilalap api. Yulius Caesar akhirnya meminta maaf dan menggantinya dengan menyumbang 200.000 buku kepada Ratu Mesir Cleopatra, yang kemudian menjadi kekasihnya.

Perpustakaan yang sangat bersejarah itu lantas dibangun kembali pada 1990 atas bantuan UNESCO. Pembangunan tersebut baru selesai pada 2002 dan menjadi perpustakaan modern terbesar di dunia dengan biaya sekitar USD 220 juta. Dilengkapi 500 komputer yang bisa mengakses semua buku secara digital, perpustakaan itu bisa menyimpan tak kurang dari 8 juta buku dari berbagai disiplin ilmu. Daya tampung ruangannya sekitar 1.700 orang serta difasilitasi ruang-ruang seminar dan pusat penelitian.

Di sini tersimpan buku-buku berbagai bahasa, sejak zaman Yunani, Mesir Kuno, keemasan Islam, sampai zaman modern. Juga terdapat kitab Hindu dan Buddha. Dari perpustakaan itu pula, lahir nama-nama besar ilmuwan abad ketiga SM seperti Archimedes yang ahli matematika, Aristarchis yang secara spekulatif menyodorkan teori astronomi bumi mengelilingi matahari, serta Euclides sang penemu ilmu geometri, matematika, dan arsitektur.

Sumber :(agusmustofa_63@yahoo.com) Jawa Pos 2 Juli 2010


Responses

  1. :-( jadi pengenn kesana..hu hu hu
    salam kenal yah bwt empunya blog ini….

    http://zhaomoli.wordpress.com

  2. salam kenal balik mba zhaomoli. thanks dah mampir di etalase ini.

    • saya memang suka sejarah kota Alexandria,Mesir.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: