Oleh: fahrymuda | Juli 5, 2010

Berpikir Positif, Bersikap Optimistis

Oleh: Anies Baswedan*

Keluhan dan pesimisme adalah kewajaran pada hari ini. Begitu Indonesia menjadi topik pembicaraan, maka lebih sering Indonesia dipandang dari sisi negatif. Indonesia penuh dengan kegagalan, deretan kesemrawutan, dan kekurangan yang tanpa habis. Lihat deretan seminar dan diskusi, baik di hotel berbintang maupun di kampus-kampus, atau obrolan rakyat di ruang keluarga hingga dengan obrolan di warung kopi. Lihat berita di televisi, di sana padat dengan kabar buruk. Tanpa sadar kita lebih sering dan lebih suka membicarakan Indonesia dengan pandangan negatif.

Anis Baswedan: Intelektual Muda

Mengapa kita lebih suka memfokuskan pada kegagalan sambil mengabaikan kemajuan? Bangsa kita memiliki stok masalah yang luar biasa banyaknya. Apa saja yang kita bicarakan pasti di sana ditemukan masalah, pasti ada kekurangan. Berbicara kesejahteraan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan pada 2010 diperkirakan 32,7 juta. Berbicara pendidikan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa hampir 80 persen siswa Indonesia yang diukur dengan test of international math and science memiliki skor sangat rendah dan di bawah minimal. Berbicara tentang kesehatan, maka standar pelayanan kesehatan kita sangat rendah. Berbicara tentang lingkungan hidup, maka situasi kita memprihatinkan.

Tidak adakah keberhasilan di republik ini? Ada banyak, tapi kita tidak membicarakan. Saat republik ini didirikan, lebih dari 95 persen pendududuknya buta huruf. Bayangkan, puluhan juta manusia Indonesia sanggup memanggul senjata, sanggup mendorong revolusi, tapi tidak bisa menulis nama sendiri. Kita buta huruf secara kolosal. Hari ini rakyat Indonesia yang buta huruf tinggal sekitar 8 persen. Itu pun mayoritas adalah penduduk lanjut usia. Bangsa mana di dunia, yang rakyatnya sebesar ini dan setersebar ini, yang bisa memutarbalikan buta huruf total menjadi melek huruf total? Itu adalah pencapaian luar biasa. Itu adalah prestasi kolektif seluruh bangsa, bukan prestasi satu-dua pemerintahan. Hari ini hampir ke mana pun kita pergi, kita bisa berdialog dengan rakyat yang melek huruf. Lihat India, lebih dari 60 tahun merdeka dan 40 persen rakyatnya masih buta huruf.

Melek huruf adalah awal keberhasilan. Akses pada pendidikan berkualitas untuk setiap warga Indonesia adalah janji berikutnya yang harus dilunasi. Saya membayangkan suatu saat nanti jika kita ditanya tentang apa kekayaan Indonesia dan jawabnya bukan lagi melimpahnya minyak, tambang, gas, hutan, dan kekayaan, tapi jawabnya adalah ”manusia Indonesia”; saat itu menandai bahwa republik ini mulai masuk era kemajuan.

Dari sisi kesejahteraan, data Bank Indonesia 2007 menunjukan bahwa saat ini lebih dari 22,5 juta penduduk Indonesia bependapatan USD 6.000 per tahun. Bila itu dipandang sebagai pendapatan yang dinikmati oleh keluarga (dengan asumsi anggota keluarga itu 3-4 orang), perkiraan kasar menunjukan ada 75-90 juta penduduk Indonesia yang menikmati penghasilan 60 juta rupiah per tahun. Itu artinya hampir 3 kali lipat penduduk Malaysia atau hampir 18 kali lipat penduduk Singapura. Coba perhatikan, saat republik ini didirikan, kelompok masyarakat ini sama sekali tidak eksis. Kemiskinan dan keterbelakangan adalah pemandangan masa itu. Hari ini kemakmuran mulai hadir, tapi baru sebagian dan masih diiringi dengan ketimpangan, pada masa lalu ada kesan lebih merata dan sejajar karena memang rata-rata miskin. Apalagi, jumlah penduduk pada 1945 sekitar 70 juta, melonjak menjadi 240 juta dalam waktu 65 tahun; jumlah yang harus disejahterakan meningkat luar biasa.

Ironisnya, di dalam negeri kita berkeluh kesah, sementara di luar negeri kita dipandang dengan penuh decak kagum. Indonesia dinilai dunia sebagai negeri yang stabil, memiliki pertumbuhan ekonomi positif, dan mampu bangkit kembali setelah dihantam krisis keuangan pada 1997-1998. Prestasi ekonomi Indonesia inilah yang mengundang sebagian ekonom menempatkan Indonesia dalam kelompok kekuatan baru dunia: BRIIC (Brazil, Rusia, India, Indonesia, dan China).

Dua hal di atas adalah sekadar contoh bagaimana sesungguhnya kita bisa melihat fenomena di Indonesia secara positif. Sudut pandang positif bisa membulatkan hati kita bahwa kemajuan itu senyatanya terjadi di republik ini. Dengan kata lain, menilai situasi Indonesia harus juga melalui membandingkan antara Indonesia sekarang dan Indonesia dulu. Tidak hanya membandingkan realitas sekarang dengan kondisi ideal, atau dengan negara lain.

Kita perlu memperhatikan kemajuan dan keberhasilan. Melihat yang sudah dicapai, tidak hanya memperhatikan yang belum dicapai. Keseimbangan dan objektivitas bisa mendorong kita untuk memiliki optimisme. Apa lagi bila kita bisa secara cerdas membedakan antara sikap optimistis dan sikap mendukung pemerintah, serta membedakan sikap kritis dengan sikap pesimistis. Optimis terhadap bangsa tidaklah mendukung pemerintah. Sikap kritis justru harus dipertahankan, tapi sikap pesimistis harus dihapus dan jangan takut untuk optimistis.

Optimisme tersebut hanya ”modal awal”. Sikap itu mesti diikuti dengan semangat melakukan perubahan, pembaruan, dari semua level, dan di segala sektor masyarakat. Pandangan positif dan optimistis digandakan menjadi pandangan kolektif seluruh bangsa.

Coba tengok masa lalu. Ketika republik ini didirikan, para pemimpin memiliki seluruh persyaratan untuk pesimistis. Kemiskinan merata, kebodohan di mana-mana, kekerasan merebak, dan kekacauan juga terjadi di mana-mana. Negara tanpa anggaran. Tetapi, mereka memilih optimis. Mereka gandakan optimisme itu menjadi optimisme kolektif seluruh bangsa. Kombinasi antara integritas tinggi para pemimpin dan optimisme kuat menjadi pendorong kemajuan republik muda ini.

Bandingkan, hari ini kita memiliki banyak persyaratan untuk optimis. Tapi, kita sering memilih membicarakan kegagalan, bukan keberhasilan. Mengungkap yang belum dicapai, bukan yang sudah dicapai. Menuding yang salah-salah, bukan memperbanyak cerita sukses. Akibatnya, republik ini dirudung pesimisme. Republik ini mengalami defisit optimisme.

Kita harus merombak suasana itu. Pesimisme yang meruyak di mana-mana harus kita putar balikkan. Bersediakah kita berkaca dan menilai diri sendiri: apakah kita sudah bersikap positif dan optimistis? Jika belum, mari kita mulai membangun kembali nuansa positif dan optimistis itu. (ABW)

*) Penulis adalah rektor Universitas Paramadina dan ketua Gerakan Indonesia Mengajar
Sumber: Opini Jawa Pos 05/07/10


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: