Oleh: fahrymuda | Oktober 4, 2010

ATM Seorang Politisi

Berpolitik seperti berinvestasi. Semakin penuh ATM kita dengan investasi, semakin besar modal sukses. Tak ada politisi yang meraih kekuasaan tanpa investasi itu. Mereka bekerja keras membangun citra dan menanam kesan positif di benak konstituen agar dipilih.

Investasinya berbagai macam. Ada yang berkeliling dari komunitas ke komunitas mengamen ide dan gagasan. Ada yang berusaha memamerkan sikap kepemimpinan bahwa lebih mementingkan umat daripada dirinya atau keluarganya. Walaupun kita sulit menebak apakah investasi itu tulus atau tidak. Apakah hanya tebar pesona?

Itulah sebabnya incumbent lebih banyak menang ketimbang penantang. Para juara bertahan mempunyai ruang dan waktu untuk berinvestasi. Sebagian besar bupati atau gubernur yang maju lagi berhasil mempertahankan kursi kekuasaannya. Hanya yang keterlaluan tamak dan bersikap tak peduli kepada rakyatnya atau karena penantangnya yang luar biasa itulah yang membuat incumbent kehilangan singgasana.

SBY menang pada Pemilihan Presiden 2009 juga karena inivestasi yang sangat besar. Kalau ukurannya laut, investasi SBY sangat dalam. Jika ukurannya langit, sangat tinggi. Dia menang dengan mudah, walaupun lawannya berat-berat. Bayangkan, menang dalam satu putaran dengan menyisihkan Megawati- Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto.

Mega yang kita kenal mempunyai massa fanatik dan mantan presiden juga kalah pamor oleh investasi tebar pesona ala SBY. Demikian juga Jusuf Kalla, yang disebut-sebut tokoh dinamis itu. Ternyata investasi yang tersimpan di ATM politik tokoh Golkar tersebut kalah juga.

***

Apa sih invetasi SBY? Tentu banyak. Gaya yang tenang juga punya nilai. Penampilan fisik yang selalu prima dengan rambut rapi tentu juga bentuk investasi. Sejumlah tindakannya sebagai presiden periode pertama juga telah memperbanyak isi ATM politiknya.

Kita masih ingat, SBY cukup gagah menanggapi krisis Ambalat 2005. Dengan menumpang kapal perang, jenderal bintang empat itu menuju garis terdepan. Seratus KRI dan sejumlah pesawat tempur me­ngiringi dia. Lewat teropong, dia menyaksikan kapal Malaysia yang menjauh karena kedatangannya. Sikap itu memberikan kepercayaan diri bagi bangsa Indonesia saat Malaysia mencoba menggoda di perbatasan.

Sikap tegas dengan Malaysia juga ditebar SBY saat salah seorang wasit asal Indonesia dikeroyok oleh para Polis Diraja Malaysia pada 2007. Begitu tegasnya sikap kita membuat PM Malaysia Abadullah Badawi tak berkutik. Saat itu, secara khusus, Pak Lah -begitu Badawi dipanggil- meminta maaf kepada bangsa Indonesia. SBY yang berada di Istana Tampaksiring dengan gagah menerima telepon mohon maaf dari Kuala Lumpur.

SBY juga berinvestasi banyak dalam hal pemberantasan korupsi. Cukup tegas. Pejabat di semua level terseret ke pengadilan. Jenderal sekalipun menjadi pesakitan. Tak terbilang, bupati, mantan bupati, para anggota DPR, dan mantan menteri sekalipun merasakan pengapnya penjara karena terbukti korupsi.

Puncaknya, SBY dengan ikhlas melepas sang besan, Aulia Pohan, menuju tahanan. Kita tak dapat membayangkan perasaan SBY ketika kerabat dekatnya itu menjadi korban dari sikap tegas dirinya. Sejatinya, sebagai presiden, SBY bisa saja melakukan berbagai manuver penyelamatan terhadap bapak mertua Agus Harimurti Yudhoyono itu. Tetapi, SBY memilih membiarkan besannya tersebut dikawal polisi menuju ke jeruji sel. Dan, SBY menjadi legitimate dijuluki pemimpin yang memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Sikap itu membuat modal ATM politiknya berjibun kala itu.

****

Dalam pekan-pekan terakhir ini, kita merindukan kisah heroik SBY itu lagi. Kita seperti terpukul ulu hati ketika para maling ikan dari Malaysia harus dibarter dengan pahlawan kita yang ditangkap Malaysia. Tiga penja­ga laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjaga laut di Kepulauan Riau tentu tak sebanding dengan nelayan Malaysia tersebut.

Di mana SBY? Mengapa tidak gagah lagi seperti saat Ambalat? Tidak ada parade KRI. Paling tidak, rakyat ingin mendengar telepon minta maaf PM Malaysia kepada SBY.

Jangan mengharapkan telepon itu datang karena Istana Kepresidenan di Jakarta kali ini tidak bersikap tegas terhadap negara jiran. Istana diam.

Berita pengampunan untuk mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani juga bagai petir di siang bolong. Bagaimana mungkin orang yang terbukti korupsi di pengadilan itu diberi ampunan. ATM politik SBY yang penuh dengan investasi antikorupsi menjadi terkuras.

Yang terakhir, sejumlah koruptor bebas bersyarat. Termasuk sang besan SBY, Aulia Pohan. KPK, yang menjadi simbol antikorupsi, dengan tegas menolak pengampunan pemotongan hukuman koruptor. Pembebasan sejumlah napi korupsi menjadi ganjalan di tengah upaya pemberantasan korupsi. Bebasnya Aulia Pohan yang pro-kontra membuat ATM politik SBY semakin tergerus dan menipis.

Jangan-jangan SBY berpikiran sekarang tak membutuhkan ATM politik lagi? Tak membutuhkan investasi lagi, bahkan ATM politiknya terkuras juga tak apa-apa. Bukankah dia sudah berpamitan tak akan maju lagi pada Pilpres 2014?

Sumber : Taufik Lamade, wartawan Jawa Pos. (lamade@jawapos.co.id)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: