Oleh: fahrymuda | November 7, 2011

Pedang Domacles

Fahry Refleksi**

Brentano, ekonom terkemuka Jerman pada masa Perang Dunia (PD) I, bersama puluhan ilmuwan Jerman lainnya menandatangani maklumat yang menyatakan bahwa bangsa Jerman lebih tinggi dibanding bangsa Prancis.

Pedang

Dua ekonom Prancis sahabat dekatnya tidak percaya Brentano ikut menandatangani maklumat tersebut, lalu mereka mengirimi surat untuk mengkonfirmasi. Tetapi aneh, Prof Dr Brentano balik menyurati dua sahabatnya itu, dan dengan gigih mempertahankan kebenaran maklumat tadi.

Sejak itu, terjadi perdebatan sengit lewat surat antara Brentano dan dua sahabatnya. Mengherankan, setelah PD I usai, Brentano menyurati Charles Gide, satu dari dua ekonom Prancis itu, menjelaskan bahwa dia menandatangani maklumat itu karena ditekan oleh pemerintah Jerman.

Kisah ini adalah gambaran tentang fenomena para intelektual yang tidak berani tampil menyuarakan kebenaran –suatu keadaan di mana mereka seolah dibayang-bayangi Pedang Domacles. Dalam sejarah Yunani, Pedang Domacles adalah pedang yang setiap saat memenggal kepala mereka yang mencoba-coba menyatakan suara yang berbeda dengan penguasa. Sikap diam kaum intelektual seperti inilah yang oleh Julien Benda diistilahkan sebagai ”pengkhianatan kaum intelektual”.

Situasi Pedang Domacles, dalam sudut pandang tertentu, bisa dipersepsikan sebagai situasi ”kemungkaran kekuasaan”. Menyikapi realitas serupa ini, Nabi saw bersabda, ”Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia membasminya dengan tangannya. Jika tidak bisa, dengan lisannya. Jika tidak bisa, dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR al-Bukhary dan Muslim).

Dalam konteks hadits ini, sikap kritis kaum intelektual terhadap suatu ”kemungkaran kekuasaan” adalah perwujudan orang-orang yang memerangi kemungkaran dengan lisannya. Sebaliknya, sikap diam mereka adalah bentuk riil dari orang yang memerangi kemungkaran (tetapi) cukup dengan hatinya saja. Dan sikap diam seperti itulah yang disebut sebagai ”selemah-lemahnya iman”.

Sekarang ini, di sekeliling kita banyak sekali kaum intelektual. Kita tentu tidak pernah berharap mereka bermental ”Brentano” –takut menyuarakan kebenaran ketika berhadapan dengan mesin kekuasaan. Lebih parah lagi kalau mereka bermental pengecut, takut menyuarakan kebenaran karena khawatir kehilangan kekuasaan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: