Oleh: fahrymuda | November 7, 2011

Raja Midas

Refleksi Fahry**

Dalam legenda Yunani, Raja Midas adalah penguasa rakus. Ia senang menumpuk kekayaan untuk diri dan keluarganya, sementara itu, rakyat dibiarkan sengsara dan menderita. Bahkan tak jarang rakyat dikorbankan demi menggapai ambisi serakahnya. Namun sayang, rakyat tidak berani melawan. Alih-alih menentang, untuk melakukan kritik secara terbuka pun rakyat tak punya nyali.

Suatu kali Raja Midas bersemedi. Dia minta kepada dewa agar tangannya diberi kekuatan magis. Dia ingin agar setiap benda yang disentuh tangannya berubah menjadi emas. Dengan begitu, kekayaannya akan semakin melimpah. Betapa rakusnya Raja Midas.

Raja Midas Ex

Permohonan sang raja dikabulkan. Dia senang sekali. Disentuhlah segala barang di sekelilingnya, dan semua berubah jadi emas. Istananya berubah menjadi istana emas.

Namun malang, ketika lapar dan haus, Raja Midas tak bisa makan dan minum. Sebab, ketika ia menyentuh makanan dan minuman, seketika itu makanan dan minuman menjadi emas. Raja Midas kian lapar dan ia memanggil-manggil istrinya. Ketika istrinya datang, ia memeluknya begitu saja, dan seketika itu pula istrinya berubah jadi patung emas. Melihat apa yang terjadi, Raja Midas menjadi gila.

Episode baru pun dimulai. Raja Midas, yang tadinya hidup mewah dan punya segala-galanya, kini justru terlunta-lunta karena gila dan disia-siakan oleh rakyatnya. Tak ada satu pun yang peduli terhadapnya.

Siapa Raja Midas? Tokoh ini tak lain adalah sebuah tipologi yang bisa melekat pada siapa dan lembaga apa saja, kapan dan di mana pun. Mungkin Raja Midas adalah mantan presiden, bekas menteri, atau eks parpol besar, yang sewaktu berkuasa menindas rakyat, dan begitu kekuasaannya lepas, giliran rakyat yang menelantarkan mereka.

Jika dibawa ke dalam dunia pepatah, barangkali nasib Raja Midas adalah pengejawantahan dari peribahasa ”siapa yang menanam, dia akan menuai”, atau, ”siapa menabur angin, dia akan menuai badai.”
Raja Midas, juga para ”pengikutnya”, telah terlebih dahulu menanam ”pohon” kejelekan, bersenang-senang di atas kesengsaraan rakyat. Maka di kemudian hari, ”buah” kejelekan pula yang mereka tuai.

Sabda Nabi saw, ”Tidaklah seseorang yang membuat lubang (untuk mencelakai), kecuali dikembalikan kepada ahlinya (dia sendiri yang akan celaka).”

(Muttafaq ‘alaih)

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: