Oleh: fahrymuda | November 7, 2011

Serigala Aesophos

Refleksi Fahry**

Aesophos dari Yunani pernah berkisah tentang seekor srigala yang kelaparan. Di tengah jalan ia menemukan pohon anggur. Sayang, meski sudah melompat berkali-kali, hewan ini gagal meraih anggur-anggur ranum itu. Akhirnya, sambil pergi ia mendengus, “Ah, anggur masam. Saya memang ogah, kok.”

SRIGALA AESOPHOS

Serigala dalam cerita Aesophos adalah cermin orang yang cenderung menimpakan persoalan kepada orang lain ketika suatu masalah datang kepadanya. Orang semacam ini, kata William Ryan, cenderung melemparkan semua pangkal masalah justru kepada penderitanya (blaming the victim).

Ketika terjadi musibah banjir, misalnya, orang bermental Serigala dalam cerita Aesophos itu justru menyalahkan para pengungsi yang sudah menderita dan sengsara. “Buat apa membantu mereka. Biar saja ini menjadi pelajaran buat mereka agar jangan lagi membuang sampah sembarangan,” katanya.

Atau, seraya merujuk QS al-Qashash: 59, ia berkata, “Biar saja. Bencana banjir dan tanah longsor ini ‘kan hukuman dari Allah karena mereka selama ini suka melakukan maksiat.” Atau, katanya lagi serya merujuk QS al-Ankabut: 2, “Bencana merupakan ujian dari Tuhan karena iman mereka masih tipis. Tuhan ingin mengukur sejauh mana mereka bisa mempertahankan keimanan mereka. Coba kalau iman mereka tebal, niscaya Tuhan tidak perlu repot-repot menguji.”

Dengan merasionalisasi “anggur masam” seperti itu, orang ini berusaha meredakan perasaan bersalahnya karena sejatinya ia tidak bisa memberikan bantuan, tapi pada saat yang sama ia juga berusaha menaikkan citra dirinya dengan berpendapat bahwa ia tidak mendapat bencana karena dirinya “bersih” dari dosa yang diidap penderita bencana.

Pendek kata, serigala dalam kisah Aesophos adalah gambaran manusia yang lebih mengedepankan sikap reaktif ketika menjumpai masalah, bukannya proaktif. Perbedaan antara manusia reaktif dan proaktif sangat jelas.

Ketika menjumpai masalah, orang reaktif langsung terobsesi pada pertanyaan “mengapa”? Sedangkan manusia proaktif cenderung mengenyampingkan “mengapa”, untuk kemudian melakukan “apa” –apa langkah strategis yang mesti dia lakukan agar masalah tersebut bisa cepat teratasi?

Saudaraku seiman dan seperjuangan, di manakan posisi Anda di antara dua tipe manusia itu?

NB. disadur dari banyak sumber.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: